BELUM TERBUKTI SUDAH TERSIKSA..

oleh Diah E.

(Tema : Warga Negara dan Negara)

 

Korupsi, Kolusi dan Nepotisme merupakan topik yang selalu hangat untuk dibicarakan di lingkungan masyarakat Indonesia sampai dengan saat ini. Mulai dari pelaku hingga keluarga yang bersangkutan selalu di perbincangkan di media cetak, ataupun elektronik. Namun akan berbeda cerita ketika seorang tertuduh korupsi yang belum terbukti sudah dihakimi secara sosial khususnya bagi keluarga dan anak.

Anak memang selalu menjadi korban. Seorang anak yang mungkin tidak tahu menahu tentang masalah orang tuanya menjadi korban diskriminasi masyarakat atas kasus korupsi yang sedang menimpa orang tuanya. Di masyarakat, sang anak diolok – olok tetangga, di maki mungkin juga dihujat atas kesalahan orang tuanya. Bahkan mungkin disekolah, sang anak akan dijauhi oleh teman – tamannya karena perintah orang tua yang lainnya untuk menjauhinya. Tidak jarang anak – anak nakal mencacinya dengan mengolok – oloknya. Hal ini tentu saja menimbulkan beban psikologis bagi sang anak. Akibatnya sang anak menjadi malu untuk bersosialisasi, tidak mau belajar, tidak punya teman atau bahkan tiba – tiba menjadi anak yang tertutup.

Tidak hanya kasus korupsi, kasus – kasus kejahatan yang ada dalam masyarakat cenderung membuat masyarakat disekitar yang mengenal tersangka dan keluarganya menghakimi mereka secara sosial. Mereka di hujati oleh perkataan yang tidak enak, menjadi omongan warga, diolok – olok atau bahkan dipermalukan di depan umum. Bahkan tidak jarang yang karena tidak tahan mendapat perlakukan diskriminatif, akhirnya pindah tempat tinggal untuk mencari lingkungan sosial yang baru dan tidak mengenal mereka hanya untuk diperlakukan secara normal. Masalah sosial seperti inilah yang tidak seharusnya terjadi.

Sebagai warga Negara, tersangka korupsi atau kasus apapun berhak mendapat hak praduga tak bersalah, sehingga sebelum hakim memutuskan ia masih mendapat perlindungan atas nama baiknya dan keluarganya. Demikian pula sang anak yang juga sebagai warga Negara ia juga berhak untuk diperlakukan sebagai warga Negara normal walaupun mungkin saja orang tuanya sedang mengalami masalah. Masyarakatpun seharusnya dapat bersikap dewasa untuk memisahkan masalah hukum yang sedang terjadi dengan masalah sosial, sehingga tidak melakukan tindakan diskriminatif kepada keluarga ataupun kepada anak tersangka.

Kesalahan yang dilakukan orang tua belum tentu menurun kepada sang anak, dengan perlakuan diskriminatif itu justru dapat menimbulkan dendam dan amarah bagi sang anak. Untuk itu, diperlukan dukungan masyarakat untuk mengubah pola pikir yang terjadi pada lingkungan seperti tersebut di atas. Karena setiap warga Negara berhak mendapat kebebasan untuk berfikir, berpendapat dan bersosialisasi tanpa ada ketakutan ataupun tekanan dari pihak manapun di Indonesia.

Dengan memperlakukan keluarga khususnya anak tersangka dengan normal dan sewajarnya tanpa harus menyalahkannya atas kesalahan orang tuanya dan memberikan bimbingan dengan lebih baik dapat menjauhkan anak dari beban psikologis yang ada dan membuat dia belajar untuk tidak mengulangi kesalahan orang tuanya sehingga dapat terus menyongsong masa depannya menjadi lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: