CARI UANG TU GAMPANG….

oleh Diah E.

(Tema : Penduduk, Masyarakat dan Kebudayaan)

 

Jakarta sebagai ibu kota Negara merupakan salah satu tujuan migrasi penduduk dari berbagai daerah. Walaupun sudah menjadi rahasia umum jika kemacetan merupakan salah satu momok utama, namun setiap tahun migrasi penduduk dari berbagai daerah ke Jakarta tidak dapat dielakkan. Hal ini terjadi karena adanya asumsi mudahnya mengais rezeki di Ibu Kota ketika tetangganya yang pulang dari Jakarta mengatakan “Cari uang tu gampang”.

Iming – iming gampangnya mencari uang itulah yang membuat masyarakat ingin mencoba peruntungan tanpa membekali diri dengan berbagai keterampilan hanya “seadanya”. Akibatnya jumlah penduduk Jakarta yang semakin bertambah, bukan hanya karena migrasi penduduk, namun juga karena tingginya tingkat kelahiran dan rendahnya tingkat kematian karena kemajuan ilmu pengetahuan. Keterbatasan bekal yang dimiliki oleh para migran menyebabkan mereka tersisih dan berusaha melakukan apapun untuk hidup. Hal tersebut akhirnya menimbulkan banyak masalah sosial dalam masyarakat salah satunya dikarenakan kemiskinan.Sering kita jumpai diberbagai ruas jalan yang padat, anak – anak usia sekolah, langsia bahkan orang dewasa yang masih tampak sehat mengemis, mengamen dan menjadi gelandangan.

Anak – anak yang seharusnya masih duduk di bangku sekolah untuk menuntut ilmu, harus mencari uang untuk makan, sehingga timbul di benak mereka bahwa menggelandang itu menyenangkan. Bayangkan hanya dengan sebotol beras yang dijadikan alat music atau tepukan tangan mereka bisa mengumpulkan uang untuk makan “cari uang tu gampang”. Hal tersebut sangat buruk. Bukan hanya keselamatan mereka yang dikhawatirkan ketika berada dijalan raya tetapi pola pikir bahwa sekolah itu tidak penting dapat mematikan masa depannya dan memicu timbulnya masalah – masalah sosial yang lain.

Jika ditarik kesimpulan, penyebab utama masalah – masalah tersebut diatas adalah tingginya angka kelahiran penduduk ataupun migrasi yang tidak terarah. Banyak orang yang menginginkan memiliki banyak anak, namun mereka tidak memikirkan kesiapan finansial dalam merawat dan membesarkan sang anak. Masih adanya asumsi “Banyak anak, banyak rezeki” juga merupakan salah satu dasar masyarakat ingin memiliki banyak anak. Akibatnya kepadatan penduduk tidak dapat dielakkan. Dengan luas lahan yang terbatas, kemampuan atau keterampilan dan tingkat pendidikan yang rendah menyebabkan setiap orang harus bersaing lebih ketat untuk hidup dan migrasi ke kota besar seperti Jakarta menjadi salah satu upaya yang mereka lakukan.

Untuk mengatasi hal – hal tersebut, diperlukan kesadaran kepada masyarakat bahwa untuk mencari uang/rezeki tidak hanya membutuhkan keberanian dan keberuntungan. Ilmu dan keterampilan sangat diperlukan, sehingga diperlukan investasi pendidikan yang memadahi. Untuk itu, kesadaran orang tua untuk dapat menyediakan pendidikan sang anak sangat dibutuhkan. Dengan mengendalikan kelahiran anak, perencanaan pendidikan ataupun masa depan sang anak dapat lebih diperhatikan. Diperlukan pula peran Pemerintah dalam mengatasi masalah kependudukan seperti menggalakkan kembali program KB, meningkatkan sosialisasi dan memberikan keerampilan kepada masyarakat miskin sehingga mereka dapat mencari uang tidak dengan menggelandang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: